Lewati ke konten utama
Kembali ke artikel

Panduan Produk Ekspor #DIGITAL

Panduan Ekspor Wortel Indonesia

Panduan memahami ekspor wortel Indonesia dari product form, grading, size, cleanliness, cold chain, HS Code, phytosanitary, pesticide residue, hingga dokumen ekspor.

Terbit
12 Agu 2026
Estimasi baca
12 menit baca
Penulis
Oleh FUTRA Export
Wortel Indonesia yang telah disortir, dibersihkan, dan disiapkan untuk grading, packaging, serta kebutuhan pasar ekspor.

Gambar: FUTRA Export · Media reference

Daftar isi

Pendahuluan

Indonesia mempunyai basis produksi wortel yang besar. Data BPS terbaru mencatat produksi wortel nasional 2025 sekitar 6,52 juta kuintal. Namun kapasitas produksi tersebut belum berarti Indonesia sudah menjadi pemain besar dalam perdagangan internasional wortel.

Data WITS berbasis UN Comtrade mencatat ekspor Indonesia pada 2024 untuk HS 070610, carrots and turnips, fresh or chilled hanya sekitar 54.732 kg senilai USD 24,61 ribu. Malaysia menjadi tujuan terbesar sekitar 40.408 kg, disusul Singapura sekitar 10.270 kg dan Timor-Leste sekitar 4.052 kg.

Tetapi ada caveat penting:

HS 070610 menggabungkan carrots dan turnips.

Jadi angka tersebut tidak boleh disebut sebagai ekspor wortel Indonesia secara murni.

Buyer tidak membeli:

  • “wortel bagus.”
  • Buyer membeli kombinasi:

size + shape + firmness + color + cleanliness + defect tolerance + packaging + shelf life + phytosanitary compliance.

Wortel Ekspor Bukan Sekadar Wortel dari Pasar

Wortel bisa masuk ke buyer dalam berbagai format.

Product FormKarakter Umum
Fresh Topped CarrotDaun/tops sudah dipotong
Bunched CarrotDijual dengan bagian tops tertentu
Washed CarrotSudah dibersihkan dari tanah
Unwashed CarrotMasih memerlukan cleaning lebih lanjut
Small / Mini CarrotUkuran kecil sesuai specification
Fresh-Cut / Cut & PeelSudah melalui processing tambahan

Product form tersebut tidak selalu mempunyai shelf life, handling, buyer, dan requirement yang sama.

UC Davis bahkan membedakan karakter penyimpanan antara bunched carrots, immature roots, mature roots, dan fresh-cut carrots.

Jadi jangan menawarkan:

  • “Fresh Indonesian Carrot.”
  • Lebih jelas kalau quotation mengatakan:
  • Fresh Topped Carrot, Washed, Size as Agreed, Export Packing
  • Buyer langsung mengetahui bentuk barang yang sedang dibahas.

Buyer Membeli Specification, Bukan “Grade A”

Indonesia sudah mempunyai SNI 3163:2014, Wortel, dan BSN hingga Agustus 2026 masih mencatat standar tersebut berstatus Berlaku.

Di perdagangan internasional, UNECE juga mempunyai FFV-10, Carrots sebagai standar commercial quality control untuk wortel segar.

Tetapi jangan menerjemahkannya menjadi:

“Semua buyer menggunakan grade yang sama.”

Buyer supermarket, wholesaler, foodservice, dan processor bisa mempunyai specification berbeda.

Parameter yang sebaiknya dikunci dapat berupa:

ParameterBuyer Specification
Product FormTopped / Bunched / Other
SizeAs agreed
LengthAs agreed
DiameterAs agreed
ShapeAs agreed
ColorAs agreed
FirmnessFirm
CleanlinessAs agreed
CrackingWithin tolerance
Green ShoulderWithin tolerance
Pest DamageWithin tolerance
DecayNot acceptable / as agreed
PackagingAs agreed
DestinationAs agreed

Dengan begitu istilah:

“Wortel Grade A Export Quality”

berubah menjadi specification yang benar-benar bisa dipakai saat sorting dan QC.

Shape, Firmness, dan Warna Bisa Menentukan Reject

Wortel yang masih bisa dimakan belum tentu memenuhi commercial specification buyer.

UC Davis mencatat beberapa quality attributes penting pada wortel fresh market, seperti:

  • firmness
  • bentuk yang relatif lurus dan uniform
  • taper dari shoulder hingga tip
  • warna yang baik
  • rendahnya lateral root atau “hairiness”
  • tidak mengalami green shoulder atau green core

Beberapa defect yang umum antara lain lack of firmness, bentuk tidak seragam, roughness, poor color, splitting/cracking, green core, sunburn, dan trimming yang buruk.

Jadi masalahnya tidak hanya:

  • busuk atau tidak busuk.
  • Buyer bisa reject wortel karena:
  • bengkok, pecah, layu, warna tidak konsisten, terlalu kasar, atau ukurannya terlalu campur.

Size Harus Bisa Diukur

Kalimat supplier seperti:

  • “Wortelnya besar-besar.”
  • bukan export specification.

UNECE FFV-10 bahkan menggunakan ketentuan sizing berdasarkan diameter atau weight untuk kategori wortel tertentu.

Buyer dapat meminta misalnya:

  • diameter X–Y mm
  • atau:
  • weight range X–Y gram
  • atau kombinasi lain berdasarkan kebutuhan retail dan foodservice.

Yang terpenting bukan memakai satu angka universal.

Yang terpenting adalah:

buyer dan supplier memakai sistem grading yang sama.

Kalau sample awal diameter rata-rata 30 mm tetapi production shipment penuh dengan wortel 15–50 mm, secara volume mungkin benar.

Secara specification, belum tentu benar.

Kebersihan dan Tanah Sangat Penting

Wortel merupakan root vegetable.

Artinya produk dipanen dari tanah.

Itu membuat cleaning menjadi bagian penting dari preparation sebelum ekspor.

Tetapi proses washing juga harus dikontrol.

UC Davis mencatat bahwa kelembapan tinggi memang diperlukan untuk mencegah carrot kehilangan air dan crispness, tetapi free moisture dari washing atau condensation yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko decay.

Jadi jangan berpikir:

  • semakin basah wortel setelah dicuci semakin fresh.
  • Yang dicari adalah:
  • clean product + controlled moisture + good temperature management.
  • Bukan wortel yang masih membawa tanah berlebihan.

Bukan juga wortel yang masuk carton dalam kondisi permukaan terlalu basah.

Cold Chain Wortel Berbeda dengan Alpukat

Kalau alpukat harus berhati-hati dengan chilling injury, wortel justru mempunyai karakter penyimpanan yang berbeda.

UC Davis mencatat 0°C sebagai optimum temperature untuk carrot storage dan relative humidity sekitar 98–100% untuk membantu mempertahankan crispness. Mature carrots mempunyai potensi storage jauh lebih lama dibanding bunched atau immature carrots jika kondisi penyimpanan optimal.

Tetapi angka tersebut jangan langsung diperlakukan sebagai:

  • “semua shipment wortel pasti reefer 0°C.”
  • Actual setting tetap perlu mempertimbangkan:
  • product form
  • maturity
  • packaging
  • transit time
  • temperature saat loading
  • buyer programme
  • apakah produk whole atau fresh-cut

Masalah pentingnya adalah menjaga rantai:

  1. 01Harvest
  2. 02Cleaning
  3. 03Sorting
  4. 04Cooling
  5. 05Packing
  6. 06Cold Storage
  7. 07Transport
  8. 08Shipment

bukan baru menyalakan reefer ketika container sudah datang.

Jangan Campur Wortel dengan Produk yang Menghasilkan Banyak Ethylene

Ini detail kecil tetapi sangat relevan dalam logistics.

UC Davis mencatat exposure wortel terhadap ethylene dapat memicu pembentukan rasa pahit. Karena itu wortel sebaiknya tidak disimpan bersama commodity penghasil ethylene yang tinggi.

Implikasinya sederhana.

Kalau melakukan mixed cargo fresh produce:

  • jangan hanya melihat apakah suhunya cocok.
  • Lihat juga:
  • commodity compatibility.

Buah dan sayur dengan temperature requirement sama belum tentu cocok berada dalam ruang penyimpanan yang sama.

Packaging Harus Menjaga Firmness dan Mencegah Damage

Packaging fresh carrots bisa disesuaikan dengan buyer.

Buyer dapat meminta:

  • plastic bag
  • perforated bag
  • carton
  • crate
  • liner
  • retail pack
  • bulk pack
  • specific net weight
  • specific count
  • pallet configuration
  • shipping mark

Risiko utamanya antara lain:

  • dehydration
  • wilting
  • breakage
  • tip damage
  • pressure damage
  • excess condensation
  • decay

UC Davis menyebut bruising, shatter cracks, dan tip breakage dapat terjadi akibat rough handling.

Jadi packaging bukan sekadar:

“muat berapa kilogram per carton?”

Packaging juga menentukan berapa banyak wortel yang masih memenuhi specification ketika tiba di importer.

HS Code Wortel

Untuk wortel fresh atau chilled, struktur HS internasional menggunakan:

  • HS 070610, Carrots and turnips, fresh or chilled.
  • UN Statistics Division menempatkannya di:
  1. 01**Chapter 07
  2. 02Heading 0706
  3. 03Subheading 070610.**

Ada satu nuance penting:

  • 070610 tidak hanya berisi carrots.
  • Subheading tersebut menggabungkan:
  • carrots + turnips.

Karena itu data perdagangan HS 070610 tidak boleh langsung dianggap sebagai data wortel murni.

Selain itu, kalau wortel sudah menjadi:

  • frozen carrot
  • dried carrot
  • canned carrot
  • carrot puree
  • juice
  • processed food
  • extensively prepared fresh-cut product

HS classification perlu dianalisis kembali sesuai barang aktual.

Apakah Wortel Indonesia Sudah Diekspor?

Sudah ada perdagangan keluar Indonesia pada kategori HS yang mencakup wortel.

Data WITS/UN Comtrade 2024 untuk HS 070610, carrots and turnips, fresh or chilled mencatat:

  • 54.732 kg
  • dengan nilai:
  • USD 24,61 ribu.
  • Tujuan terbesarnya:
NegaraVolume 2024
Malaysia40.408 kg
Singapura10.270 kg
Timor-Leste4.052 kg
Jepang1 kg

Untuk konteks global, eksportir utama HS 070610 pada 2024 termasuk China, Belanda, Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Mexico, dan Canada. China sendiri mencatat volume ekspor lebih dari 900 juta kg pada kelompok HS tersebut.

Jadi tantangan Indonesia bukan sekadar:

  • “apakah ada pasar?”
  • Pasarnya jelas ada.

Pertanyaannya adalah:

apakah wortel Indonesia bisa hadir dengan cost, quality, consistency, dan logistics yang kompetitif?

Siapa Buyer Wortel?

Buyer-nya bisa berbeda berdasarkan end use.

BuyerFokus Utama
Fresh Produce ImporterSize, quality, price
Vegetable DistributorConsistency dan supply
Wholesale Market BuyerVolume dan competitiveness
Supermarket SupplierUniformity, appearance, packaging
HORECA SupplierSize dan freshness
Food ProcessorYield dan processing efficiency
Fresh-Cut ProcessorShape, length, processing specification

Fresh-cut processor bisa mempunyai kebutuhan berbeda dari supermarket.

Mereka mungkin tidak terlalu peduli apakah setiap carrot terlihat cantik untuk retail.

Tetapi mereka sangat peduli pada:

  • diameter + length + straightness + processing yield.
  • Karena itu jangan mencari:
  • “vegetable importer”
  • secara terlalu umum.

Cari buyer berdasarkan SKU dan end use yang sedang dijual.

Phytosanitary dan Market Access

Fresh carrot adalah komoditas tumbuhan.

Badan Karantina Indonesia menjelaskan bahwa pemeriksaan dan sertifikasi ekspor tumbuhan dilakukan untuk memastikan komoditas memenuhi persyaratan fitosanitari negara tujuan, termasuk melalui penerbitan Phytosanitary Certificate ketika dipersyaratkan.

Untuk root vegetable, eksportir juga harus memperhatikan kebersihan produk dan potensi soil-associated pest concern sesuai requirement negara tujuan.

Tetapi jangan menyimpulkan:

  • “semua negara punya requirement wortel yang sama.”
  • Sebelum deal, cek:
  • market access
  • target pest
  • cleanliness requirement
  • soil restriction
  • treatment bila diperlukan
  • packing-house requirement
  • inspection
  • Phytosanitary Certificate
  • additional declaration bila diminta

Requirement Malaysia belum tentu sama dengan Jepang.

Requirement Singapura belum tentu sama dengan Australia atau EU.

Pesticide Residue Harus Dimulai dari Kebun

Fresh carrot akhirnya dikonsumsi sebagai pangan.

Karena itu Maximum Residue Limit atau MRL perlu dipertimbangkan sejak cultivation stage.

Codex menjelaskan MRL sebagai batas maksimum residu pestisida yang secara legal dapat ditoleransi ketika pestisida digunakan sesuai Good Agricultural Practice, dan Codex menyediakan database MRL berdasarkan commodity dan pesticide.

Uni Eropa menggunakan framework MRL melalui Regulation (EC) No 396/2005, sementara European Commission menyediakan EU Pesticides Database untuk mengecek MRL berdasarkan produk dan active substance.

Artinya jangan baru bertanya:

  • “wortelnya ada residu nggak?”
  • ketika buyer sudah meminta COA.

Supply chain sebaiknya mengetahui:

  1. 01Pesticide Used
  2. 02Application Record
  3. 03Pre-Harvest Interval
  4. 04Harvest
  5. 05Destination MRL
  6. 06Testing bila Required

Dan jangan pernah menganggap:

lulus requirement Indonesia = otomatis lulus semua negara.

Traceability Tidak Boleh Dimulai di Gudang Eksportir

Kalau buyer menemukan:

  • residue issue
  • atau:
  • pest
  • atau:
  • satu batch cepat busuk

eksportir harus bisa mengetahui produk tersebut datang dari kebun mana.

Minimum traceability dapat berupa:

  1. 01Farm
  2. 02Farmer
  3. 03Harvest Date
  4. 04Lot
  5. 05Washing/Sorting
  6. 06Packing Date
  7. 07Carton/Pallet
  8. 08Shipment

Dengan sistem tersebut, kalau satu lot bermasalah:

yang ditelusuri adalah lot tersebut.

Bukan seluruh supply chain menjadi tidak jelas.

Ini perbedaan antara:

  • beli wortel di pasar lalu ekspor
  • dengan:
  • membangun export supply chain wortel.

Dokumen Ekspor Wortel

Tergantung shipment dan negara tujuan, dokumen dapat mencakup:

  • Commercial Invoice
  • Packing List
  • PEB
  • NPE
  • Bill of Lading / Air Waybill
  • Phytosanitary Certificate bila required
  • Certificate of Origin bila diperlukan
  • Certificate of Analysis / pesticide residue report bila required
  • treatment certificate bila required
  • packing-house information bila required
  • farm/traceability record sesuai buyer
  • additional declaration sesuai requirement negara tujuan

Payung umum kebijakan ekspor Indonesia saat ini adalah Permendag Nomor 23 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor, yang telah mengalami perubahan kelima melalui Permendag Nomor 12 Tahun 2026 dan berstatus berlaku.

Tetapi jangan menentukan requirement hanya dari kalimat:

  • “ini wortel.”
  • Gunakan:

product form + HS + origin + destination + phytosanitary requirement + buyer specification.

Workflow Ekspor Wortel yang Lebih Aman

Alurnya bisa dibuat sederhana:

  1. 01Target Market
  2. 02Buyer End Use
  3. 03Specification
  4. 04Farm/Supplier
  5. 05Harvest
  6. 06Cleaning
  7. 07Sorting & Grading
  8. 08Cooling
  9. 09Packing
  10. 10Phytosanitary
  11. 11Cold Chain
  12. 12Shipment

Bukan:

  1. 01Punya Wortel
  2. 02Sortir yang Kelihatan Bagus
  3. 03Cari Buyer Luar Negeri
  4. 04Kirim

Misalnya buyer mengatakan:

  • “We need fresh carrots from Indonesia.”
  • Jangan langsung jawab:
  • “USD X/kg FOB.”
  • Tanyakan:
  • topped atau bunched?
  • washed atau unwashed?
  • diameter requirement?
  • length requirement?
  • weight range?
  • required color?
  • defect tolerance?
  • green shoulder tolerance?
  • packaging?
  • net weight/carton?
  • destination country?
  • phytosanitary requirement?
  • pesticide-residue requirement?
  • weekly/monthly volume?

Baru setelah itu quotation mempunyai konteks.

Kesimpulan

Indonesia mempunyai basis produksi wortel besar. BPS mencatat produksi nasional 2025 sekitar 6,52 juta kuintal. Tetapi perdagangan ekspor yang terlihat pada HS 070610 masih sangat kecil dibandingkan skala produksinya, dan angka HS tersebut bahkan masih menggabungkan carrots dan turnips.

Jadi peluang ekspor wortel Indonesia bukan sekadar:

  • “kita punya barang.”
  • Gap yang harus dibangun adalah:

uniformity + cleanliness + grading + postharvest + cold chain + phytosanitary + MRL control + traceability + competitive logistics.

Wortel juga mempunyai detail postharvest yang sering dianggap sepele: harus tetap firm, kehilangan air harus dicegah, free moisture berlebihan dapat meningkatkan decay, dan paparan ethylene dapat menyebabkan rasa pahit.

Jadi jangan hanya menawarkan:

  • “Fresh Indonesian Carrot.”
  • Tawarkan:

Indonesian Carrot dengan size, shape, firmness, cleanliness, specification, traceability, postharvest control, dan market compliance yang jelas.

Referensi Utama

  • Badan Pusat Statistik: produksi tanaman sayuran Indonesia, termasuk wortel, tahun 2025.
  • Badan Standardisasi Nasional: SNI 3163:2014, Wortel, status berlaku.
  • UNECE: FFV-10, Carrots, standar commercial quality untuk fresh carrots.
  • United Nations Statistics Division: HS 070610, Carrots and turnips, fresh or chilled.
  • World Bank WITS / UN Comtrade: perdagangan ekspor Indonesia HS 070610 tahun 2024.
  • Badan Karantina Indonesia: phytosanitary certification berdasarkan persyaratan negara tujuan.
  • FAO/WHO Codex Alimentarius: Maximum Residue Limits untuk pesticide residues.
  • European Commission: EU Pesticides Database dan framework MRL Uni Eropa.
  • UC Davis Postharvest Research and Extension Center: quality, defects, storage temperature, humidity, ethylene, dan postharvest handling carrot.
  • Kementerian Perdagangan: Permendag 23 Tahun 2023 sebagaimana terakhir diubah melalui Permendag 12 Tahun 2026.

Referensi cepat

Pertanyaan umum

Apa HS Code wortel?

Untuk carrots dan turnips yang fresh atau chilled, HS internasionalnya adalah 070610. Perlu diperhatikan bahwa subheading ini menggabungkan carrots dan turnips. Final HS Indonesia tetap harus dicek melalui BTKI/INSW berdasarkan barang aktual.

Apakah Indonesia punya SNI untuk wortel?

Ya. BSN mencatat SNI 3163:2014, Wortel dan statusnya masih berlaku hingga Agustus 2026.

Berapa ekspor wortel Indonesia?

Data WITS/UN Comtrade 2024 mencatat ekspor Indonesia HS 070610 sekitar 54.732 kg, dengan Malaysia sebagai tujuan terbesar. Tetapi angka tersebut tidak bisa disebut carrot-only karena HS 070610 juga mencakup turnips.

Berapa temperatur penyimpanan wortel?

UC Davis mencatat 0°C sebagai optimum temperature untuk carrots dan relative humidity optimum sekitar 98–100%. Namun actual logistics setting tetap perlu disesuaikan dengan product form, packaging, transit time, dan buyer requirement.

Apakah wortel perlu Phytosanitary Certificate?

Requirement harus dicek berdasarkan negara tujuan. Badan Karantina Indonesia menerbitkan Phytosanitary Certificate untuk komoditas ekspor ketika diperlukan sebagai jaminan bahwa persyaratan fitosanitari negara tujuan telah dipenuhi.

Apa yang biasanya diperiksa buyer wortel?

Buyer dapat memperhatikan size, diameter, length, shape, firmness, color, cleanliness, cracking, green shoulder, pest damage, decay, packaging, dan shelf-life performance. UC Davis juga mencatat firmness, uniform shape, color, cracking, green core, dan trimming sebagai beberapa parameter kualitas atau defect penting.

FUTRA Handbook #DIGITALPDF tersedia

Wortel Indonesia untuk Ekspor: Spesifikasi, HS Code, Buyer, dan Regulasi Handbook

Materi pendamping untuk membantu persiapan produk dan strategi ekspor.